Bagian terakhir dari 5 artikel. Artikel sebelumnya adalah tentang My Soulmate… Where Are You?

Suatu hari saya pernah berjalan-jalan di Supermall, dan saya melihat suatu pemandangan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Ada sepasang opa-oma, yang masih sehat walaupun sudah lanjut usia, dan mereka hanya berdua. Mereka duduk di Dunkin Donut, di depan mereka ada dua piring yang masing-masing berisi sebuah donut yang sudah dimakan sebagian dan secangkir entah kopi atau teh saya tidak tahu. Saya terkesima waktu melihat mereka, saat itu mereka tidak sedang berbicara satu sama lain. Mereka hanya duduk diam bersebelahan, tetapi ekspresi yang terpancar dari wajah mereka adalah ekspresi yang tenang dan damai seakan mereka tidak perlu lagi saling mengungkapkan apa yang mereka pikirkan karena masing-masing sudah mengerti apa yang dipikirkan atau dirasakan pasangannya. Mereka duduk di situ menikmati kebersamaan mereka dalam diam ditengah keramaian dan kesibukan mall, sepertinya ada sebuah dunia sendiri yang menjadi milik mereka yang tidak bisa ditembus oleh hiruk pikuk dunia di luarnya. Walaupun mereka hanya duduk diam, dan segala ketampanan dan kecantikan sudah hampir tak bersisa lagi dari wajah tua mereka tetapi entah kenapa saya masih dapat merasakan suasana romantic yang ada di antara opa-oma ini.

Saya cuma bisa menghela napas, kagum sekaligus iri hehehe…. jujur nih. Dalam hati saya langsung bilang, ” Tuhan, aku ingin punya relasi seperti opa oma ini dengan suamiku nanti. Sampai kami tua kasih itu masih bertahan dan semakin kuat di dalam Engkau.” Saya tahu, Tuhan mendengar, dan Dia sedang mempersiapkan jawaban doaku ini.

Kesimpulannya kalau mau ketemu dengan soulmate yang sejati sepertinya kita harus berani beda nih dengan orang kebanyakan. Kalau mereka milihnya dari mata turun kehati doang….,kalau kita walaupun tetap dari mata turun ke hati (ngaku aja lah…. mau gak mau pasti penampilan fisik tetap ada perannya kan apalagi kalau pertama kali ketemu hehehe), tapi gak bisa cuma sampai disitu. Yang terpenting apakah si dia memiliki iman yang sepadan denganku? Jadi walaupun yang terlihat pertama kali telah membuat kita tertarik, tetap saja factor fisik dan jiwa ini tidak bisa jadi prioritas utama.

Masalah cinta, kalau mau dibahas…. Sampai kapan pun tidak akan pernah ada habisnya…. Karena manusia diciptakan dengan cinta, untuk cinta, dan oleh cinta itu sendiri….. nggak heran kerinduan terbesar dalam hati manusia ya untuk mencintai… dan dicintai…..

Makanya setelah sekian panjang saya menulis tentang topik ini…. somehow otomatis terlintas dalam benak saya, ada beberapa point penting yang benar-benar harus kita camkan as a single saat kita ada dalam perjalanan mencari soulmate kita….

Yang pertama, dan terpenting kayaknya….. sekarang berhenti deh mikir dan menimbang apakah si A atau si B atau si C pantas untuk menjadi pacar ku? Dan kemudian menikah denganku….. STOOOPPPP…… berhenti dulu. Justru seharusnya yang kita pertanyakan adalah

Sudahkah aku pantas untuk menjadi soulmate bagi seseorang yang sudah Tuhan sediakan bagiku????

Sudahkah aku memiliki kualitas-kualitas rohani yang membuatku menjadi pasangan yang sungguh berharga bagi suami atau istriku nanti? Ehmmm kalau jawabannya belum…., ya sebaiknya kita berlomba-lomba untuk menumbuhkan kualitas rohani ini dalam diri kita. Honestly, tidak mudah untuk membangun kualitas roh yang seperti ini, tetapi saya sungguh ingin memilikinya (and I believe, you also want it, all of you), jadi, saya pun berjuang untuk mengejar kualitas-kualitas ini. Kualitas-kualitas yang sungguh berharga dan hanya ada satu cara untuk mendapatkannya: melekat pada Yesus, dan terus berjalan mengikuti Dia seberat apa pun tantangan yang harus dihadapi. Tidak jarang saya jatuh lagi, tapi saya percaya Tuhan menghargai setiap orang yang mau bangkit dan mencoba lagi dan lagi dan lagi sampai saat terakhir, jadi, saya bangkit lagi.

Kedua, jangan pernah menikah karena alasan-alasan selain karena kita mencintai pasangan kita dan telah memutuskan untuk berkomitmen menjadikan dia satu-satunya pasangan kita. Alasan-alasan yang lain hanya akan membuat hidup kita semakin menderita dan akibatnya pernikahan kita bukannya menjadi pernikahan yang memberkati orang lain tapi malah mungkin menjadi batu sandungan.

Ketiga, Alkitab berkata kurang lebih seperti ini, “dari buahnya kita akan tahu kualitas pohonnya”. Kita juga bisa cek apakah hubungan kita adalah hubungan yang menyenangkan Allah atau tidak dari buahnya. Apakah saat aku berpacaran dengannya, kami menjadi semakin dekat pada Allah? Iman dan kehidupan rohani kami bertumbuh? Pastikan bahwa jawabannya adalah “YA”. Pastikan bahwa saat berpacaran dengan seseorang, ada suatu proses yang terjadi. Dan proses ini membuatku dan dia semakin indah di hadapan Allah.

Keempat, adalah hal yang sangat patut kita syukuri karena kita berada dalam Gereja Katolik yang memiliki kekayaan iman luar biasa. Dalam iman Katolik kita memiliki keluarga rohani, sungguh-sungguh keluarga besar loh. Coba pikir,selain kita punya Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus, kita punya seorang Bunda yang luar biasa mengasihi kita dan kita punya saudara-saudara seiman yang ada bersama kita sekarang di dunia. Saking cintanya Allah pada kita Dia masih memberikan pada masing-masing kita satu body guard hehehe…., malaikat pelindung maksudnya , kita punya para Santo-santa di Surga, dan juga ada malaikat-malaikat Agung.

Trus??? Apa hubungannya? Hubungannya, seluruh keluarga kita ini sama seperti Bapa, mengharapkan yang terbaik untuk kita. Jadi kita punya banyak pendukung nih….hehehe…., nah dari sekian banyak supporter yang kita miliki, selain Allah Tritunggal, ada dua pribadi yang dalam Tradisi Gereja Katolik dapat kita mintai pertolongan dalam hal mencari pasangan hidup: Bunda Maria dan salah satu dari tiga Malaikat Agung, St. Rafael. Kita dapat melihat peran Bunda yang begitu besar dalam keutuhan keluarga dalam Pesta Pernikahan di Kana. Begitu perhatiannya Bunda pada keadaan suatu keluarga, dan saya percaya tentu Bunda akan sangat memperhatikan pasangan seperti apa yang akan mendampingi anak-anak yang dia kasihi.sedang peran St. Rafael dapat kita lihat dalam kitab Tobit, dimana St. Rafael yang membimbing Tobia, putra Tobit untuk bertemu dengan pasangan hidupnya. St. Rafael pula yang menyertai Tobia sepanjang perjalanannya untuk bertemu dengan pasangan hidupnya ini. Baca deh kitab Tobit, buatku ceritanya keren abiss, walaupun dalam Alkitab, tapi dongeng masa kecil kita benernya kalah seru. Terutama karena dongeng –dongeng indah yang sering kita dengar, hanyalah cerita…., sedang kisah dalam Alkitab ini bukan hanya cerita….. tetapi nyata. So, mari kita libatkan keluarga rohani kita ini saat kita mencari soulmate kita……

Kelima, saat berjuang untuk menumbuhkan kualitas-kualitas iman, pikirkan tidak hanya untuk mendapatkan soulmate, dan hidup pernikahan yang menjadi berkat, tapi pikirkan juga bahwa semua kualitas iman ini penting untuk kita kejar supaya kita benar-benar pantas menjadi mempelaiNya, saat Ia datang untuk menjemput kita. Karena kita ini hanyalah pendatang-pendatang yang hanya singgah di dunia ini…. rumah kita sesungguhnya adalah dalam kerajaanNya. While we are in our journey, the best thing we can do is, preparing ourself with the best heavenly outfit.

Soulmate, is about a process to grow together in GOD

Tentu saja bukan suatu hal yang gampang untuk dicapai semua yang sudah saya tulis…. berat malah…. tapi saya mau mengajak teman-teman untuk berpikir dari sudut pandang Allah, bahwa Dia menciptakan kita sempurna dan kita berharga di mataNya. Dengan kasih karuniaNya, usaha kita akan membuahkan hasil yang manis…..Dia yang akan memampukan kita.

To all of my single friends, let’s take a good care of our spirit, so we can please Him, our dear Lord and our Heavenly Groom…….
God Bless You all.

Yashinta Kasih



Artikel yang berhubungan:

  1. My Soulmate…. Where Are You?
  2. Apa Sih Pacaran Itu?
  3. Bagaimana Caranya Memilih Pasangan Hidup Yang Sepadan Denganku?
  4. Jatuh Cinta
  5. Pasangan Hidup

Artikel sebelumnya:         Artikel selanjutnya: