Tentang Menasihati Sesama Saudara [ Mat 18 : 15 - 20 ]
18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
18:16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
18:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.
18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."
Waktu saya sekolah SD dulu, artinya itu sebelum SMP dan sesudah TK.
Ada sesuatu yang Pak Guru bilang, bahwa kehidupan di desa dan di kota itu lain.
Di desa itu lebih ada kerukunan, kebersamaan, tetapi di kota itu individualis.
Kebetulan . . . ( ehhh didalam Tuhan kan tidak ada kebetulan ), yang sangat tepat, saya tinggal di Tulungagung.
Sebuah kota kecil yang asri dan bersih ( juga terkenal sate kambingnya )
Trus Pak Guru juga bilang bahwa seperti di Surabaya itu orangnya individualis, Cuma mementingkan kepentingannya sendiri. Tidak peduli kepentingan orang lain.
Apakah memang benar seperti itu setelah kita semua tinggal atau pernah tinggal di kota besar seperti Surabaya ?
Jawabannya adalah ya, anda tepat sekali.
Tetapi juga ada sebagian orang yang bilang bahwa versi positif dari individualis adalah tidak mencampuri urusan orang lain.
Dan itu adalah baik menurut beberapa orang, karena kadang kala mencampuri urusan orang lain, kadang kala bukan tambah membuat baik, tapi tambah membuat ruwet.
Dan kita pun kadang kala juga tidak suka dicampuri urusan kita.
Maka beberapa orang mencari jalan yang indah, yaitu saya tidak menggangu anda, anda jangan menggangu saya. Dan terciptalah individualis.
Herannya lagi, ini juga terjadi di kalangan orang2 rohani. Negur enggak, nggosip jalan.
Maka mari kita lihat firman Tuhan, "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.”
Boro2 lanjutannya, yaitu “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.”
Menegur empat mata saja tidak berani. Kan kita2 ini beraninya ngomong belakang ( itulah definisi dari nggosip, makin digosok, makin Sip ).
Jika ada yang menegur, maka pastinya ada yang ditegur.
Banyak dari kita kenapa tidak suka menegur ? alasannya simpel, karena kitapun tidak suka ditegur.
Maka jalan indah penuh bunga2 tadi muncul, saya tidak menegur anda, anda jangan menegur anda.
Kita semua tentu sudah tahu kisah yang sangat populer tentang raja Daud, bagaimana Tuhan menegur dengan keras lewat perantaraan Nabi Natan dan bagaimana raja Daud menerima teguran tersebut.
Betapa indahnya teguran itu sampai2 kitab Amsal katakan, Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.
Kecenderungan manusia adalah berbuat yang jahat dan berbuat yang salah, maka jika kita dietgur artinya Tuhan mau kembalikan kita ke jalan yang benar.
"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.”
Bukankah itu sesuatu yang indah bahwa Tuhan selalu rindu kita hidup di jalan yang benar.
Nahhhhh looooooo, kalo kita sudah tahu bahwa teguran itu adalah baik.
Mari kita menegur saudara2 kita yang jatuh di dalam dosa, supaya apa ? supaya mereka tidak tambah terperosok.
Tapi bukan asal menegur, tapi dengarkanlah suara-Nya. Apakah memang kita harus menegur.
Jika ya, just do it.
Selamat menegur dan ditegur,
Artikel yang berhubungan:
- Perumpamaan Tentang Seorang Penabur [ Matius 13 : 1 - 23 ]
- Perumpamaan Tentang Lalang diantara Gandum [ Mat 13 : 24 - 30 ]
- Perumpamaan Tentang Domba yang Hilang [ Mat 18 : 12 - 14 ]
- Perumpamaan Tentang Penggarap – penggarap Kebun Anggur [ Mat 21 : 33 - 46 ]
- Tentang Membayar Pajak Kepada Kaisar [ Mat 22 : 15 - 22 ]
komentar »
Bagaimana menurut Anda?
Untuk menampilkan foto pada komentar Anda, daftarkan email Anda di gravatar!


Belum ada komentar